Dunia sekarang tidak lagi berorientasi pada proses, tetapi dunia sekarang berorientasi ada hasil. Bukan lagi proses yang diutamakan tetapi orang banyak berbicara hanya mengenai hasil. Tanpa kita sadari, hal ini sudah terjadi berabad tahun yang lalu. Dimana orang-orang lebih mengedepankan hasil dari pada prosesnya.
Bahkan dalam ayat berpuasa QS. Al-Baqarah:183 terdapat kalimat la’allakum tattaqun “لعلّكم تتّقون” yang menjadi tujuan kita untuk berpuasa. Hal ini menunjukkan bahwa setiap proses memiliki tujuan dalam pelaksanaannya.
Kenapa ketaqwaan itu menjadi tujuan dari berpuasa?
Karena derajat manusia yang paling tinggi adalah orang yang bertakwa kepada Allah Swt.
انّ اكرمكم عند اللّي اتقكم
Ramadhan ini adalah momentum yang paling tepat untuk meningkatkan level ketakwaan kita. Salah satu caranya yaitu, memanfaatkan waktu dari sahur hingga berbuka untuk beribadah kepada Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Jangan sampai puasa kita hanya sekedar menahan lapar dan dahaga. Karena pada hakikatnya, definisi puasa lebih dari itu. Jika kita masih mengartikan bahwa puasa hanya sekedar menahan haus dan dahaga, maka kita masih sangat jauh dari hakikat ketaqwaan.
Tantangan generasi kita saat ini adalah ketergantungannya pada alat pemermudah komunikasi dan akses segala hal, yaitu handphone. Bahkan jika mereka sudah bermain handphone, mereka lupa bahwa jarum jam terus bergerak meninggalkannya jauh terbelakang. Maka pesantren adalah tempat terbaik untuk meningkatkan level ketakwaan karena disinilah generasi muda itu terdidik tanpa handphone, yang kadang justru menjerumuskan pada hal yang melanggar syari’at Islam.
Melalui kultum ini, diharapkan seluruh keluarga besar Pesantren Putri Al-mawaddah untuk meningkatkan level ketakwaan kepada Allah Swt dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Red. Felda
