“Naik Level dalam Sholat”
Saat ini kita sedang berada pada fase kehidupan kedua, yaitu kehidupan di dunia. Setelah fase ini, kita akan memasuki hari hisab, di mana setiap amal perbuatan akan dihitung satu per satu tanpa ada yang terlewat.
Di antara seluruh amal, shalat menjadi amalan yang paling menentukan. Shalat adalah tiang agama. Jika shalat seseorang baik, maka baik pula amal lainnya. Namun jika shalatnya rusak, maka amal yang lain pun terancam ikut rusak. Ada tingkatan dalam menjalankan shalat:
- Shalat sebagai Rutinitas atau Kewajiban, ketika setelah shalat kita mengucap hamdalah karena merasa telah menunaikan kewajiban, itu menunjukkan bahwa shalat masih berada pada level rutinitas.
- Shalat sebagai Kebutuhan dan Obat Hati, ketika dalam shalat kita sudah merasakan kenikmatan, ketenangan, bahkan rasa syukur saat melaksanakannya, maka kita telah naik level. Shalat bukan lagi sekadar kewajiban, tetapi menjadi penenang jiwa dan penguat iman.
Imam Syafi’i mengajarkan kepada kita bahwa shalat 5 waktu dilakukan di rumah, shalat Jumat dilaksanakan di masjid, dan shalat Id dilakukan di lapangan. Hal ini menunjukkan keseimbangan antara ibadah pribadi dan kebersamaan dalam masyarakat.
Kita juga diingatkan agar tidak ridho jika dipimpin oleh orang yang tidak berilmu dan tidak amanah, karena kepemimpinan sangat memengaruhi kenyamanan dan kebaikan bersama. Semoga kita termasuk orang-orang yang menjaga shalat dengan kualitas terbaik, karena itulah bekal utama kita menuju hari hisab.
Red. Daurin
